Berlatih Silat dan Adab

Foto : Mila Arinda Putri


Depok - Perguruan silat Sutera Baja berasal dari Betawi yang berpusat di Kemayoran mempunyai beberapa cabang diantaranya cabang Kukusan, Beji, yang dipimpin oleh Ansor selaku pelatih silat.

Perguruan silat yang dulunya bernama Pukulan Kemayoran tersebut didirikan dari tahun 1970-an hingga saat ini, namun perguruan silat tersebut sempat mati suri. Kemudian Ansor membangun kembali di tahun 2017.

“Alasan pergantian nama tersebut karena jika menggunakan Pukulan Kemayoran maka yang terkenal hanya di Kemayoran saja, dari itu diganti menjadi silat Sutera Baja dan dijadikan sebagai perguruan pencak silat nasional,” kata Ansor yang ditemui di samping danau Universitas Indonesia. Minggu (20/10)

Salah satu sesepuh Sutra Baja ini perumus dari salah satu jurus baku, yang dinamai Jurus Tunggal Baku IPSI dan biasa dipertandingkan secara nasional maupun internasional.

Ansor melatih 60 anak yang berdomisili di Kukusan, Cinere, Pondok Cina, dan daerah lain yang ada di Depok, anggota yang dilatihnya tidak dibatasi umur, dari usia anak-anak hingga dewasa bisa ikut bergabung.

Aji, salah satu anggota dari silat yang masih berumur 8 tahun tersebut telah mengikuti beberapa pertandingan dan meraih emas sebanyak 2 kali pertandingan tingkat nasional.

“Jadi di sini itu bukan hanya melatih fisik saja, namun juga mental keberanian seorang anak dalam menghadapi lawan, Dari umur berapa aja bebas yang mau ikut silat. Karena silat itu karirnya tida terbatas umur, kalau tidak bisa jadi pelatih, bisa jadi wasit juri, begitupun sebaliknya,” kata Ansor.

Ansor melatih sebanyak 60 anak. Anak-anak tersebut dilatih satu minggu sekali jika tidak ada event, sedangkan jika ada event dilatihnya setiap hari ketika pulang sekolah. Dan ketika sekolah pagi, maka latihannya sore, atau sebaliknya jika sekolah siang maka latihannya pagi. Ansor biasa melatih anggotanya di kawasan Universitas Indonesia.

Peguruan tersebut mempuyai tingkatan sabuk untuk mengetahui kemampuan masing-masing individu. Untuk paling dasar pada silat Sutra Baja pertama yaitu sabuk putih, sabuk hijau, kuning, biru, coklat, hitam, baru yang terakhir sabuk merah.

Perolehan tingkatan sabuk tergantung kemauan masing-masing individu. Penilaian untuk menuju ke tingkatan sabuk yang lebih tinggi mencakup kemampuan fisik, gerak ketangkasan, sekaligus menguasai jurus.

Melatih Adab yang Baik

Anak-anak yang mengikuti perguruan silat tersebut juga dilatih kejujuran dan kedisiplinan. Salah satu cara untuk melatih kejujurannya dengan bertanya seberapa sering bermain gadget. Jika mereka ketahuan menggunakan gadget dirumah maka akan diberi sangsi berupa push up.

"Hukuman tertinggi adalah ketika seorang anak kasar dengan orangtua. mereka dapat sangsi push up sebanyak 50 kali. Dari merekanya sendiri harus bisa jujur. Jika ada yang tidak jujur pasti ketahuan kalau sudah terbiasa dekat. kelihatan wajah dan reaksi fisik mana yang jujur mana yang bohong," ucap Ansor.

Ansor berharap kedepannya dengan adanya perguruan silat tersebut dapat mengurangi tigkat kriminalisasi di Kota Depok, khususnya untuk anak-anak muda.

Perguruan silat yang telah melahirkan banyak atlit hingga dapat meraih emas dan perak, selain sebagai ajang pembentukan fisik yang kuat juga sebagai jalan masuk ke sekolah lanjutan yang di inginkan. Ansor mengatakan jika mendapat sertifikat pertandingan, siapapun yang ingin masuk SMP negeri maka akan langsung otomatis bisa masuk.


Post a Comment

0 Comments